KU BAWAKAN OLEH-OLEH DARI BANDUNG BERUPA CERITA PENUH DRAMA (PART 2)


Minggu, 23 September 2018
Awalnya kami punya rencana kalau hari terakhir di Bandung mau ke Tebing Keraton dan jalan setelah sholat shubuh. Nyatanya? Kami ada rasa kapok berkendara ke tempat yang jalanannya banyak tanjakan karena kondisi motor yang ga sesuai, seperti CC yang rendah dan kondisi rem yang mengerikan hahaha. Saat itu aku bangun sekitar jam 5 lewat dan langsung shubuh-an. Setelah itu mandi dan siap-siap. Bagaimana dengan Emil? Ya sama kayak aku lah siap-siap.

Destinasi yang kami kunjungi adalah Taman Balai Kota Bandung. Sebelum ke sana, cari sarapan dulu. Karena kita ga dapat sarapan dari penginapan. Tak jauh dari tempat kami menginap, ada Bubur Ayam yang berada di Jl. Homan yang terletak dekat Museum Asia Afrika. Mari kita coba!


Satu porsi Bubur seharga Rp 15.000. Jenis buburnya tidak memakai kuah kuning. Komposisinya adalah bubur dengan lada dan garam, Ayam Suwir, Cakwe, potongan Ati Ayam, Telur, dan Daun Sledri. Rasanya enak dan harus pakai sambal. Kenapa? Sambalnya enak. Buburnya jadi enak banget. Aku rekomendasikan bubur ini untuk sarapan pagi di Bandung, hehe.


Setelah sarapan, langsung deh kami jalan. Rasanya jalan-jalan di Bandung pada pagi hari tuh enak banget. Damai aja rasanya. Sampailah kami di Balai Kota Bandung. Ternyata ramai, ya. Banyak orang olahraga. Tujuan ke sini adalah ingin foto, haha. Dasar anak Instagram. Sesampai di sana, kami duduk-duduk dulu. Duduk-duduk aja juga udah enak banget. Kami tertarik dengan pohon besar yang disekitar pohon tersebut dibangun labirin yang bukan labirin (ga tau harus dibilang apa).

Masuklah kami. Rasanya seperti di dalam Got besar, hahaha. Rada bau. Entah, bau apa. Lalu, mencari-cari posisi untuk berfoto. Tapi, banyak anak kecil bermain Petak Umpet wkwkwk. Baru mau foto eh, anak kecil muncul. Lari-larian pisan nabrak-nabrak haha. Banyak juga orang yang sedang berfoto di pohon yang besar ini.



Setelah dari sini, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung Creative Hub. Tapi Cuma foto bangunannya dan pergi lagi, Hahah ga jelas. Sayang bgt sih sebenernya ga coba masuk ke dalam. Setelah dari sana kami menuju ke Cihampelas Sky Walk. Penasaran aja seperti apa sih tempatnya. Tempat ini ya seperti jembatan aja, tempat orang berjalan kaki dan nongki-nongki. Di sana juga ada yang berjualan. Sayang sekali ga ada dokumentasi untuk tempat ini. Kami sibuk berjalan kaki dan ngobrol, wkwkwk. 


Sebelum balik ke penginapan, kami coba masuk ke Mal Ciwalk. Cuma numpang berteduh dari panas dan melihat-lihat kayak apa sih Ciwalk. Karena waktu kecil kalo ke Bandung ga pernah berkunjung ke Mal. Selalu ke Lembang dan ke Rumah Mode (anaknya shopping banget, ya) hahaha.

Ada drama, nih. Saat menuju ke penginapan dari Ciwalk, kami ada nyasar karena salah perhatikan rute di Google Map. Seharusnya kami berkendara di jalan bawah, ini kami naik ke jalan atas. Terus kok sepi ya Cuma motor kami aja yang jalan di situ.

“Mil, ini bener ga sih kita jalan di sini. Ini jalan tol bukan sih? “ Kataku sambil ngedumel.

Terus aku mau mundur lagi tapi udah naik ke atas. Pas udah sampai atas tetep mengira ini jalan tol karena banyak mobil yang berjalan di sana sedangkan aku belum melihat ada motor yang berlalu-lalang di sana. Tapi, aku tetep jalan aja. Ternyata ini jalan umum wkwkwk. Pada akhirnya aku lihat motor juga walau sedikit haha. Haduh emang ga hapal jalanan di Bandung ini akutu.

Pada jam 10.00 Sampailah kami di penginapan dan istirahat. Rencananya jam 11.00 mau keluar lagi untuk jalan-jalan di sekitar Asia Afrika. Tapi Bandung panasnya minta ampun. Jadi, kami pilih untuk istirahat di kamar. Setelah Sholat Zhuhur, kami Check-Out dari penginapan dan menyempatkan ke Paris Van Java (PVJ). Lagi-lagi karena mau lihat seperti apa dalamnya. Saat mau berangkat ke sana, motor agak susah di starter nih.

Saat mau menuju stasiun dari PVJ, ada drama lagi. Ampun, banget, huhuhu. Motor ga bisa di starter. Saat itu waktu menunjukkan hampir jam 13.00 dimana kita jam 13.30 udah harus sampai di Stasiun karena Jadwal Kereta kami berangkat jam 14.05. Coba starter pakai tombol starter dan memutar gas tetap ga bisa. Kami coba standar dua motornya dan starter pakai injekan yang di samping motor itu apa namanya ga tau aku bukan anak motor, nuhun. Berulang kali starter sambil injek-injek itu sampai keringet luber. Akhirnya, bisa. Ya Allah, nuhun.

Tujuan kami ke Stasiun Bandung pintu Utara. Ternyata pas sampai, nyampenya ke pintu barat apa selatan, lupa. Berharap keluar dari stasiun bisa putar balik. Nyatanya jalanannya satu arah. Drama maning, drama maning. Waktu udah menunjukkan sekitar 13.20-an. sementara kami masih cari jalan untuk ke Pintu Utara. Muter-muter di jalan, bandung macet di daerah sana, kena lampu merah, dan Tanya orang. Orang di sekitar ditanya jawabnya juga ragu-ragu, yaudah berdasarkan keyakinan hati Emil (cocok ni dijadikan judul sinetron di tv ikan terbang), kami jalankan motor dan berharap sampai ke Pintu Utara.

Akhirnya sampai, huaaaa. Buru-buru parkirkan motor. Taruh karcis dan kunci di dalam jok motor. Jam menunjukkan pukul 13.45. Melihat dari kejauhan, kami melihat antrian penukaran tiket antri panjang.


“Tuh, kan, aku bilang mending tukerin tiket tadi pagi”, kata Emil sambil kesal.

Lari-lari deh kami. Ternyata tempat penukaran tiket ga antri. Langsung buka aplikasi Kai Access dan lihat kode booking-an. Aku ketik kodenya. Lalu, ada tulisan yang muncul di layar? “Kode tidak terdaftar”. Coba ketik lagi. Tetap jawabannya itu. Coba pakai scan barcode, ga bisa juga. Mana agak gaptek pas mau scan barcode, hapenya di masukkan ke dalam lobang scanner barcode. Ya ga muat, malih. Padahal mah tinggal pas in aja layar hp sama scannernya wkwkw. Waktu udah menunjukan jam 13.50-an. Terus nanya ke petugas di sana kenapa kok tidak tersedia terus. 

Lalu, petugasnya bilang “Mbaknya pesan pakai aplikasi Kai Access, ya? Kalau gitu langsung ke boarding aja mba, tunjukin kode pesanannya dan siapkan KTP”. Larilah kami ke sana. Alhamdulillah bisa. Ini belum tenang, belum tenang. Masih harus cari keretanya! Nanya ke petugas dan akhirnya ketemu keretanya. Saat masuk ke dalam, sudah banyak orang. Bagasi atas, sudah banyak barang. Setelah menaruh barang dan duduk di kursi, kereta jalan. Jiwa ini lemas, hahahaha. Alhamdulillah kita ga ketinggalan kereta ya mil.

makan di kereta untuk 2 org abis segindang. warteg tetap idola Q.

Terima kasih Bandung, Kala itu, kamu memberikan oleh-oleh untuk kami bukan kartika sari ataupun prima rasa, melainkan oleh-oleh drama kepanikan. Sekian. (naon, sih)


KU BAWAKAN OLEH-OLEH DARI BANDUNG BERUPA CERITA PENUH DRAMA (PART 1)

Bagaimana judul dari postingan kali ini? Udah masuk ke level klikbet-klikbet ((clickbait)) kayak di Youtube, belum?

Udah, ah, langsung aja intro.

Siapa yang tidak tau Bandung ? Ada. Bocah baru lahir, Yhaa, garing. Bandung adalah sebuah kota yang terletak di provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan surga kulinernya dan tempat wisatanya. Pun, karya seni yang diciptakan oleh warga Bandung yang kreatif-kreatif ((memuji)). Macet. Kalau siang hari, Panas banget ((tiba-tiba menjatuhkan)).

Jadi, Awal bulan September, Si Emil (bukan Ridwan Kamil) ngajakin ke Bandung. Tadinya mau tanggal 15 September. Gara-gara kelamaan mikir, tiket kereta untuk jam yang diinginkan, habis, hahaha. Ya sudah, akhirnya kami pilih tanggal 22 September deh. Tiket Kereta PP, penginapan, sewa motor, sudah beres. Jadilah kami ke Bandung tanggal 22 September hanya berdua aja. Walau hanya menginap semalam, gapapa, deh. Refreshing~

Sabtu, 22 September 2018
Aku berangkat dari rumah jam 05.30 pagi menuju stasiun Univeristas Indonesia (UI) dan ketemu Emil di sana. Kami pilih untuk naik commuter line menuju Stasiun Gambir. Tapi, Stasiun Gambir bukan stasiun untuk transit. Jadi, harus turun di Stasiun Juanda. Setelah itu berjalan kaki menuju Stasiun Gambir. Hitung-hitung olahraga di pagi hari, hehe. Aku menuju stasiun UI dianterin naik mobil. Dipikir-pikir kenapa ga sekalian ke Stasiun Gambir aja?  Ya sudah, aku dan Emil ketemuan di Kampus D dan berangkat ke Stasiun Gambir.

Sampai di gambir jam 7 kurang. Emejing. Cepet. Aku naik kereta api Argo Parahyangan Premium kelas ekonomi dengan keberangkatan pukul 07.50 WIB. Kami cetak tiket yang sudah dipesan melalui aplikasi KAI Access (Bisa download di Play Store). Tarif per orangnya sebesar Rp 100.000 dan durasi perjalanan selama 3 Jam. Sambil menunggu kereta datang, kita sarapan cantique dulu (padahal di rumah udah sarapan ayam bakar yang dibeli semalem wkwk). Sarapannya dengan Mie Instan Cup (Emil) dan Roti Sobek (Aku). Cantique atau ga, tuh? Bukan main ga ada cantique-cantique nya.

Stasiun Gambir
Pukul 07.30, keretanya sudah datang. Rajin banget keretanya udah datang aja. Bikin kita bingung ini kereta yang bakal kita naikin atau bukan. Ternyata, benar. Naiklah aku. Cari gerbong dan kursi sesuai pesanan. Aku dan Emil duduk di kursi 13A & 13B. Formasi kursi di kereta ini untuk dua orang dan menghadap ke depan semua. Tapi, untuk kursi 11A&B dan kursi di belakangnya, berlawanan arah.
Kereta jalan dengan on time. Salut! Lalu, mendengar celoteh orang di depan kursi kami dengan drama temannya ketinggalan kereta. Jadi ingat dulu pergi ke Kebumen, temen ketinggalan kereta wkwk.

Rute perjalanan dengan kereta api ke Bandung yang saya ingat adalah Gambir - Jatinegara - Bekasi - Purwakarta - Cimahi - Bandung. Ketika sampai di Purwakarta, iseng foto bangkai kereta yang berjejer di sebelah kereta yang kami naiki. 
Stasiun Purwakarta
Kegiatan yang kami lakukan di kereta adalah…

Tidur.

Akhirnya sampai di Bandung! Pertama kali ke Bandung menggunakan kereta api, hehe. Aku kabari orang rental motor dan janjian di pintu utara. Sudah ketemu orang rental motornya. Aku sewa motor vario 110cc di “Shiro Rental Motor”. Kenapa sewa di sana? Karena rental motor yang lain harganya sekitar 100rb perhari dan belum biaya antar jemput motornya. Mahal 😔. Di Shiro, kami dapat harga perhari Rp 85.000 (harga weekend). Hitungannya harian bukan 24 jam.  Jadi, kami bayar motor untuk 2 hari. Motor bisa diantar jemput dengan kena biaya Rp 30.000. Motor sudah kami pegang, dan ini waktunya EXPLORE BANDUNG!

Siang hari itu, Bandung panas banget! Ga kuat, hahaha (Aku bukan pecinta summer). Kami memutuskan untuk ke penginapan dulu. Rencananya ke penginapan dulu untuk survey tempat dan konfirmasi pesanan yang sudah ku pesan melalui applikasi karena check-in jam 14.00. Sementara saat itu masih jam 12 kurang.


Sampai lah di penginapan. Aku menginap di Hotel Reddoorz near Asia Afrika 3 yang di pesan melalui aplikasi pegi-pegi. Letak penginapan kami di Jl. Pangarang No. 14, Cikawo, Bandung. Lalu, cek pesanan dan pesananku sudah tertara di sistem, Alhamdulillah. Mba-mbanya bilang bisa check-in lebih awal kena charge Rp 50.000. Ya maunya check-in lebih awal dong. Murah lagi biaya tambahannya hahaha. Pengen ngadem dan rebahan soalnya. Harga permalamnya Rp 233.000. Padahal Reddoorz ada aplikasinya. Tapi, harganya lebih murah sedikit pakai pegi-pegi wkwkwk.

Lumayan pulangnya bawa kantong merahnya wkwk
Kami dapat kamar dengan ukuran kecil seperti kamar di rumah sendiri wkwkwk. Tapi lumayan bagus kok. Tempat tidur nyaman dan kamar mandi bersih. Tapi kocaknya, shower yang ada di kamar kami, posisi tempat menaruh showernya itu pendek, ga tinggi, hahaha. Ya kali mandinya jongkok udah mirip orang galau shower-an 😂.
 


Tuh kan tempat showernya pendek wkwkwk

Karena kamarnya kecil, tempat untuk sholat pun terbatas. Mana di depan kamar mandi. Kacaunya kami ga ada yang bawa Sajadah. Melirik-liriklah kami ke salah satu handuk hotel yang menganggur. Emil pakai handuk hotel dan aku pakai handuk sendiri. Jadilah tuh handuk menjadi Sajadah 😅.

Kiblatnya bukan ke sana tapi sebaliknya.
Cuma buat liatin jarak solat dengan kamar mandi deketan hahaha
Ga semua kamar seperti itu kok. Ada kamar yang memiliki tempat tidur dua tapi single bed. Enak kan kalau gitu ada space buat sholat. Kebetulan lagi space-nya itu menghadap kiblat wkwk.

Setelah istirahat dan sholat, aku berangkat untuk berkunjung ke destinasi pertama, yaitu babakan siliwangi (Baksil). Sebelum tiba di Baksil, kami cari makan dulu. Laper sejadi-jadinya. Lalu, ketemu nih, ada warteg. Kalau dari jalan alun-alun bandung, belok kanan. Nah warteg itu posisinya ada di sebelah kiri. Makanan yang ku pesan ada nasi, leunca orek telur, buncis, dan bakso kecil-kecil kayak di semur gitu. Tak lupa dengan minumnya, yaitu es teh tawar haha. Rasanya lumayan, enak, dan ngenyangin. Harganya standar lah kayak warteg di Depok, yaitu Rp 12.000 aja udah sama minum, hehe.


Mau habis baru di foto


Lanjut perjalanan lagi. Bandung saat itu macet banget dan mendung.

Sampailah kami di Babakan Siliwangi. Baksil terletak di Jl. Tamansari No. 73, Lebak Siliwangi, Bandung. Masuk ke sana gratis dan Cuma bayar parkir Rp 3.000. Itu parkir di luar baksil. Parkir di sana karena dikira pintu masuknya Cuma satu, deket parkiran di luar. Ga taunya kendaraan bisa masuk ke area baksil.



Babakan Siliwangi adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dijadikan tempat rekreasi untuk masyarakat Bandung. Tempat ini menjadi berkembang dengan dibangunnya jembatan-jembatan untuk masyarakat yang ingin berkeliling di babakan siliwangi dengan aman dan tidak merusak pepohonan di sekitarnya. Babakan siliwangi sekarang dijuluki sebagai tempat wisata Forest Walk.



Waktu SD kalau jalan-jalan ke Bandung suka merinding kalau melewati baksil. Karena dulu ada restoran yang sudah terbengkalai dan dijadikan syuting Dunia Lain. Padahal ngelewatin doang dan ga masuk ke sana. Dasar bocah penakut. Sekarang udah bukan anak kecil, tapi tetap penakut, wkwk.

Kami di sana jalan kaki aja sambil foto-foto. Terus gerimis dong. Karena banyak pohon, ga terlalu kebasahan. Tapi, petirnya serem 😰. Lumayan sih jalan kaki aja sambil cerita-cerita, hitung-itung ngurangin kalori hahaha.

Aku & Emil



Setelah keliling-keliling di baksil, kita bingung mau ke mana lagi. Terus Emil hubungin temennya yang tinggal di bandung. Nanya-nanya tempat yang bagus di bandung di mana, seperti bukit-bukit dan rooftop. Tadinya rencanya mau pulang aja dari baksil terus nanti lanjut jalan pas malam hari untuk ke café-café yang ada rooftopnya. Pikirnya rada sayang kalau pulang dulu. Ya sudah, hujan reda, akhirnya kami nekat ke Bukit Bintang/Puncak Bintang setelah dari Baksil dengan bantuan Google Maps.
kalau di depok, 35 menit perjalanan diselingi macet dan jaraknya ga begitu jauh.
Kalau ini 35 menit tapi ga nyampe-nyampe 😭
Kami diarahkan ke Dago atas. Kayak di puncak, ih, rada ngeri nyetir di sana wkwkwk. Rute ke sana lewat perumahan gitu di Jl. Raya Resort. Rumahnya bagus-bagus banget haha. Sampai akhirnya masuk ke jalan perkampungan. Banyak batu kerikil wkwk. Jalanannya kadang bagus, kadang jelek. Sampailah kami ketemu jalan yang tanjakannya curam. Aku gas full. Anjay… ga kuat motornya hahaha. Terus ngerem dulu dan aku suruh emil turun. Aku gas lagi dan itu tetap ga kuat jalan. Baru bisa jalan pas kaki ikutan jalan. Ketika udah sampai di jalan yang ga curam. Ku berhentikan motornya dan melihat kebelakang. Kasihan Emil jalan kaki di jalan tanjakan sambil cengengesan, ya sayang kan kalo ga ikutan cengengesan hahaha.

Naiklah emil dan kami lanjut jalankan motor sambil ngucap “Bismillah”. Alhamdulillah bisa jalan. Pemandangan di sana ya banyak bukit-bukit dan jurang-jurang. Untung di samping jalanan yang kita lalui, tuh, ga langsung jurang. Tapi ada lahan tanah dan rerumputan. Aman sentosa.

Berbicara dalam hati, “Ini kapan sampainya.. ga sampe-sampe”. Di depan kami juga ada 2 orang sedang naik motor. Kayaknya tujuannya sama nih mau ke puncak bintang. Ternyata udah mau dekat dengan tempatnya. Eh.. eh.. ada tanjakan curam lagi pemirsah. Sedang menanjak, eh motor depan ga kuat juga. Padahal motor sewaanku bisa naik walau pelan. Mau gamau ngerem dong. Pas digas, ga kuat nanjak. Ya salam.. Mil.. Mil.. Turun lagi dong bahahaha. Melas banget anak yang satu ini jalan kaki nanjak yang kedua kalinya sampe kakinya gemeter. Tapi, Emil dapat bonuslah bisa jalan berduaan sama orang yang dibonceng yang motornya ga kuat juga, Yhaaa, cinta bersemi di tanjakan.

Akhirnya sampai di Puncak Bintang! Di sebelah parkiran puncak bintang, ada Bukit Moko. Tempat yang aku ketahui dari video Jalan-jalan Men. Tapi, tujuan kami ke puncak bintang karena ada pohon pinus dan dermaga gitu buat lihat-lihat pemandangan. Tiket masuk per orang dikenakan tarif sebesar Rp 15.000. Oh iya, sebelum sampai di tempat ini, nanti ketemu sekumpulan bapak-bapak yang memberikan karcis parkir sebesar Rp 5.000.
Gambar screenshoot dari video yang ku rekam.
Gembel banget lupa foto haha


Tempatnya asik buat refreshing otak banget karena banyak pepohonan. Untuk pemandangannya sih biasa aja, karena ada sebagian lahan yang hanya tanah aja membuat tidak enak dipandang. Di sana juga bisa berkemah dan per orang dikenakan tarif sebesar Rp 25.000.







Kami di sana sampai matahari terbenam. Berhubung cuacanya berkabut, ga bisa lihat matahari terbenamnya,deh. Gapapa, ketika malam hari tiba, tempat di sana menjadi banyak kerlap kerlip lampu dari rumah-rumah warga, whoaaa. Inilah waktunya skill fotografi di uji haha. Karena bukan fotografer professional dan tidak tau banyak teknik, akhirnya bisa ni foto orang dengan latar kerlap-kerlip lampu rumah warga hehehe.







 Hari sudah gelap, waktunya untuk pulang. Sepulang dari sana, diperingatkan untuk menyediakan air. Menyediakan air untuk menyiram lempengan deket ban motor ketika rem memunculkan bau gitu. Untunglah masih ada air mineral.

Ketika pulang, jalanan berbalik menjadi menurun. Sudah ga khawatir lagi motor ga kuat nanjak. Tapi muncul kekhawatiran yang baru, yaitu takut motor susah di rem, hahaha. Sudah terlalu banyak mengerem, emil menyium bau yang tidak sedap. Ternyata remnya bau. Oke, berhenti sebentar di jalanan yang datar. Lalu, mengeluarkan air mineral dan menyiram sedikit demi sedikit di permukaan lempengan rem tersebut. Keluarlah asap, hahaha, saking panasnya mungkin remnya. Tau ga? Rasanya merinding berhenti malam-malam di kampung orang yang minim pencahayaan.


Lanjut lagi jalan. Jalanan menanjak sedikit lalu jalanan terus menurun. Rem bau lagi. Aku bergegas berhentikan motor di jalanan yang menurun. Karena gaada jalanan yang datar saat itu. Matikan mesin, siram lempengan rem lagi. Nah, ketika itu. Rem kanan (rem depan) kayak ga berfungsi gitu. Saat dipencet tuh kayak blong. Tapi, aku masih belum khawatir. Lanjutlah kami jalan sambil mematikan mesin motor karena jalanan menurun. Tujuannya untuk ngirit bensin, wkwk. Saat sedang jalan, rem yang berfungsi Cuma rem kiri (rem belakang), itu aku tekan sekuat mungkin tapi ga ngerem-ngerem L. Jalanan terus menurun, pun motor semakin susah diberhentikan. Sudah menggunakan bantuan kaki agar bisa berhenti. Tapi alas sepatu ku sudah menipis dan jalanan berpasir. Ga bisa berhenti.
“Mil, mil ini gimana? Kayaknya blong deh rem nya. Aduh.. ini turunan terus jalanannya. Ada tukang sevice ga ya di sini?”. Ngedumel panic sementara motor masih tidak bisa diberhentikan.
“Ti, seriusan ti? Rem belakang juga ga mempan? Yaudah, starter motornya dinyalahin aja", kata Emil.
Lalu, aku coba starter. Ternyata? Ga bisa di starter! Mungkin karena pengaruh rem kali, ya?

“Mil, mil ga bisa di starter”, kataku. “Ah, uti seriusan!”, Emil panic.
Setelah kurang lebih 3x coba starter, akhirnya bisa dan rem depan berfungsi kembali. Huaaah… lemes. 
“Bisa, ti? Ah, sebel banget uti… aku mau nangis tau!”, Emil kesel. 
Ternyata dia mau nangis wkwk terus aku disebel-sebelin, dikesel-keselin, wkwkwk. Ini drama terparah yang bikin muncul pilihan kita harus menjatuhkan diri atau .... ga mau mengakhiri hidup  yang pasti. Alhamdulillah,masih dilindungin Allah, SWT. Kejadian ini ga akan bisa dilupakan, huft.

Setelah berjalan lama mengikuti Google Maps, ternyata nyasar gitu. Pas pulang ga lewat jalan pada saat berangkat sore harinya. Akhirnya puter balik lagi ke jalanan yang kami lewati tadi. Ya, jalanan yang sebelahnya dinding bukit yang tinggi. Serem, pak. Ya, udah setelah itu aku cuma ikutin jalan aja menurut Google Maps. Udah ga mikirin mau itu jalanan yang tadi kita lewatin sama atau ga. Sampai akhirnya kami sudah memasuki wilayah yang ramai dan banyak penduduk. Udah aman deh kalau udah ngeliat indomaret dan alfamart yang berdekatan, hahaha.

Asli beda banget jalanan pas berangkat sama pas pulang. Ga tau itu di daerah mana. Akhirnya kita sampai ke hotel dengan selamat.

Pulang dari Puncak Bintang, mau jalan-jalan sama temennya Emil yang tinggal di Bandung. Ada dua orang. Tadinya mau ikut. Tapi, aku capek banget (lemah) dan aku memilih untuk beristirahat aja di malam itu. Sementara, Emil tetap jalan dengan temannya. Badannya kuat banget memang Emil Hercules.

Dikarenakan aku kalau tidur suka kebluk alias susah untuk bangun, kunci kamar aku cabut dan nanti biar emil minta resepsionis minta bukain kamarnya pakai kunci cadangan, wkwkwk, ide bagus, bukan?

Untuk cerita keesokan harinya, lanjut di part 2, ya!




LIBURAN SINGKAT ( Yogyakarta & Wonosobo)


Assalamualaikum Wr. Wb
Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam

Pertengahan Desember rasanya ingin sekali ke Jogja lagi. Rindu. Bapakku juga, adekku ikut aja dan cuma Ibuku yang bingung karena ada masalah. Apa masalahnya? yaitu Cuti. Pada akhirnya bisa cuti. Tanggal 22 Desember Ibuku mulai Cuti dan harus masuk lagi di tanggal 27 Desember 2017. Hmm.. singkat ya.

Jum'at 22 & 23 Desember 2017
Hari itu langsung cari Hotel. Hotel murah sudah habis yang tersisa hanya hotel-hotel dengan harga menengah ke atas. Mau tidak mau, siang hari setelah para lelaki solat jum'at langsung pilih hotel yang ada saja. Pada jam 22.00 WIB, kami berangkat dari rumah menuju Yogyakarta. Sangat dadakan. Tidak hanya dengan keluarga ber empat, tapi juga mengajak eyang ku. Ada berbagai transportasi dan rute perjalanan darat yang bisa di pilih untuk menuju ke Yogyakarta, yaitu :



Awal Bulan Juli Berburu Jakarta


" Awal bulan Juli berburu Jakarta ? Maksudnya? "




Hehe...





(Sabtu, 1 Juli 2017)


Hari itu, aku memutuskan untuk keluar rumah, sudah rindu untuk memotret. Hunting fotonya ke suatu tempat yang namanya terdengar membosankan tapi, banyak hal menarik untuk diabadikan. Yap, Jakarta. Aku ga sendirian berburunya, ditemani Dini hahah. Tempat yang kami tuju, yaitu Galeri Nasional dan Jakarta Kota. Sayangnya ketika sudah sampai di Galeri Nasional, tutup, umm. Masih libur lebaran. Tidak usah berlama-lama, aku langsung bergegas balik ke Stasiun Djuanda lagi untuk menuju ke Stasiun Jakarta Kota. Huu.. sedih nian, wkwk.

Budget pas main di Yogyakarta (Jogja)

Salam Keling

Aku mau share nih budget saat di Jogja selama 4 hari 3 malam. Ga pakai itinerary. Hari itu juga langsung ngayap aja, wkwk



3 Hari Main di Jogja = ke Delapan (8) tempat wisata


Hari 1 - Berangkat ( Minggu, 19 Februari 2017 ) 
Tiket kereta api PROGO = Rp 120.000/orang
* Dapat discount, harga asli Rp 125.000

Main di Yogyakarta, Nih !



Udah lama ga nulis di blog. Akhirnya sekarang bisa nulis lagi dengan membawa cerita baru hehehe. Cerita kali ini tentang berkelana di  Yogyakarta, orang biasa menyebutnya "jogja'. Senang banget akhirnya bisa berkunjung ke Jogja lagi hihi. Langsung aja simak tulisan ku ya ~

The 39Th JGTC ( Jazz Goes To Campus )


Assalamualaikum Wr. Wb ~

Halo semua !

Kegiatan apa aja sih yang kalian lakukan saat akhir pekan ? Pastinya bermacam-macam ya. Jalan-jalan bersama teman atau keluarga, mencoba produktif seperti membuat sesuatu yang menyenangkan, hunting foto, dan lain-lain. Atau lebih memilih untuk beristirahat di rumah sambil mantengin layar komputer ? Hmm.. yang terakhir sih, aku banget, wahaha. Tapi, kali ini aku mencoba untuk keluar rumah di akhir pekan. Karena ada salah satu festival yang digelar setiap bulan November di Universitas Indonesia, tepatnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI) yang aku tunggu banget, yaitu Jazz Goes To Campus (JGTC) 2016. Ini adalah kali kedua (Raisa banget) aku datang ke acara JGTC. Padahal, acara ini sudah 39 kali digelar dan aku baru datang dua kali, haha. Maklum jarang ada teman yang suka nonton konser. Apalagi acara musiknya ber-genre Jazz, ga ada teman ku yang tertarik, hmm. Alhamdulillahnya, ada teman yang mau diajak nonton nih. Aku datang ke JGTC dengan Emil dan kedua kalinya nonton sama dia. 

⇓ ⇓ ⇓


Minggu, 27 November 2016
Untuk menuju ke sana, aku memutuskan untuk naik Grab (ojek) dengan keadaan hujan-hujanan (pakai mantel). Ga tau kenapa ya, setiap JGTC selalu hujan dan anehnya JGTC terus diadakan di bulan November yang mana bulan tersebut sedang musim hujan, hahaha. Jalan dari rumah, hujan sangat deras. Pas sampai di Jalan Margonda, hujan reda. Tahun kemarin juga seperti itu, fufu. Aku janjian sama Emil di halte depan Fakultas Psikologi UI. Sudah ketemu, Kami pun jalan kaki ke FEB UI. Sebenarnya, dadakan sih buat mutusin untuk datang ke JGTC. H-1 lah. Jadi, belum megang tiket sama sekali. Tapi, ga usah khawatir lah, ada tiket OTS (On The Spot)  ini, hehe.


SEBLAK ANNA ( SEBLAK JELETET MURNI 2 )



Haaa~

Blog kali ini, aku akan bahas tentang makanan. Baru pertama kali nih aku nulis tentang kuliner. Biasanya kan jalan-jalan terus ya, haha. Jadi, makanan ini adalah salah satu makanan khas Bandung, yang pada jamannya ( lupa tahun berapa. Kasih tau ya, haha ) bikin pencinta kuliner penasaran ingin coba. Makanan apa ya? Yap, kalian pasti udah tau, yaitu SEBLAK. Seblak adalah makanan yang tebuat dari kerupuk basah dan ditambahkan dengan bumbu-bumbu cinta khas seblak. Bukan hanya kerupuk basah saja, ciri khas lainnya dari seblak, yaitu PEDAS. Indonesia banget kan?? Cabe banget kan? Kalo bukan Cabe, berarti cabe-cabean. Ga jelas sih eh.

Sekarang, seblak udah berkembang loh. Isinya bukan hanya kerupuk basah aja. Tapi, juga ada Mie, Kwetiaw, Makaroni. dan lain-lain. Ga usah banyak merogoh kocek, seblak udah bisa didapat dengan harga Rp 10.000. Murahkan? Yang digerobak-gerobak aja yang murah sih.

Yaudah dari pada banyak intro, mending langsung aja ya pengalaman makan seblak bersama temen-temen ku.

Dolan-dolan ke Curug Ciherang, Bogor


Ya, kembali lagi untuk menuliskan sebuah cerita perjalanan bersama teman-teman ku. Bukan perjalanan yang jauh seperti dipostingan yang sebelumnya. Ke tempat yang dekat dari Depok yaitu ke suatu daerah di Bogor. Kalau Bogor kotanya sih, udah biasa. Tinggal naik komuter line dari Stasiun Depok Baru. Pas sampai di Stasiun Bogor, tinggal bingung. Yee.. tinggal naik angkot dong ke tempat yang kita tuju. Gimandose pfftt...

Syudahlah. Langsung aja ya~

Selasa, 04 Oktober 2016
Sekitar jam 07.15, Aku dijemput Dinda untuk pergi ke suatu tempat nih. Pasti kalian udah tau lah kemana. Kan ada di judul hehe. Sebelum lanjut jalan untuk bertemu Mareta dan Dini, kami ambil gopero-gopero an ke rumah tantenya Dinda. Sudah diambil, kami lanjut jalan untuk jemput Mareta. Nah, sampailah kami di gang rumahnya yang bertepatan di jalan "ada aja deh". Tidak lama menunggu, akhirnya muncul juga. Oke, mari lanjut jalan untuk jemput Dini. Kami janjian untuk ketemuan di Jalan Juanda, Depok.

Sampai di Jalan Juanda, aku belum lihat sosoknya Dini (bukan sosok makhluk halus ya. kan bukan dunia lain, Astagfirullah). Sambil menunggu Dini datang, main Instagram Stories dulu. Hmm.. Dini ga dateng-dateng. Eh, ga lama kemudian, kami ketemu Dini deh. Start awal dari Jalan Juanda. Sebelum jalan, aku buka aplikasi map dulu. Aku pake aplikasi waze. Kenapa pake waze? karena aku imut. Oke, sudah diatur kemana akan pergi yaitu ke Curug Ciherang, mari berangkaaatt~~~

Aku dan Dinda masing-masing mengendarai motor untuk memboncengi kanjeng-kanjeng putri ini. Eh tapi Mareta yang nyetir deng. Dinda yang di boncengin (ga penting sih). Hanya ber-empat saja. Harusnya Iin ikut. Tapi, sudahlah umm. Kami jalan dari Depok sekitar jam 8 lewatan sepertinya. Kesiangan sebenarnya. Tapi, yasudah ya sing penting dolan yo.

Di waze, aku pilih rute yang melewati jalan tajur - citeureup. Waktu yang ditempuh sekitar hampir 2 jam kalau di Waze. Ya, ini pertama kali aku touring ke Bogor sama teman-teman. Nekat sih sebenarnya. Tapi, kalo ga nekat, ga kuy. Ya.. asal berkendaranya hati-hati, Insya Allah perjalanan bakal lancar terus hehe. Jangan lupa untuk selalu berdoa sebelum perjalanan dimulai. Saat tiba di Jalan Raya Bogor, Kami isi bensin dulu dan beli minum. Full-in tengki. Antisipasi kalau disana susah menemukan pom bensin. Sudah selesai urusan di pom bensin, lanjut jalan lagi~

Kebumen dan Purwokerto

Udah lama ga nulis blog lagi. Sebenarnya banyak yang mau diceritain di sini. Tapi, mageeeerrr -,-
Nah kali ini aku mau ceritain liburan sama temen-temen. Agak lupi-lupi sih karena udah beberapa bulan yang lalu. Selamat membaca :)

Aku sama teman -teman punya rencana untuk mengisi waktu liburan selama seminggu. Rencana apa tuh? Rencananya yaitu liburan di kampungnya Khusnul yaitu di Kebumen. Dari pada seminggu di dalam rumah hany utnuk main komputer, mending mlaku-mlaku sama Elly, Ayya, dan Khusnul. Mungkin kalo udah baca postinganku yang sebelumnya, pasti ga asing dengan nama mereka. Wong aku main sama mereka terus hahaha. Langsung aja ya kita mulai di hari pertama~

Jeeeengg-jeeeeng!!


KEDAI KITA & KEBUN RAYA BOGOR



Jumat, 18 Desember 2015
Setelah selesai ujian, Aku, Mareta, Dinda, dan Dini berencana akan pergi. Tapi, enaknya pergi kemana ya? Hmm… Bogor kayaknya enak nih hehe. Kami sepakat untuk pergi ke Bogoooor. Langsung saja bergegas keluar dari kampus.

Biasanya, Aku main ber lima dan hari itu Cuma ber empat. Biasalah Iin selalu gak bisa diajak main. Hmm~

Motor aku tinggalkan di parkiran kampus. Aku akan naik kereta dari Stasiun Pondok Cina. Stasiunnya sangat dekat dengan kampus. Jadi, tinggal berjalan kaki sebentar saja. Sampai di Stasiun, Aku langsung membeli tiket komuter line tujuan bogor. Tarif nya sebesar Rp 3000 dan jaminan Rp 10.000. Yap! Aku dan teman-teman siap menunggu kereta datang.


“ Sebentar lagi komuter line tujuan Depok akan tiba “, Kata mba-mba yang halo-halo

Terpaksa Kenalan dengan Si "Banjir"

Kamis, 10 Desember 2015
Ya Allah, ini grafiknya kok aneh ya?” Bingung


Duh.. ini benar gak ya jawabannya kayak gini ?” Otak meledak


Hari itu, Aku sedang melaksanakan Ujian Tengah Semester. Mata kuliah yang diujikan adalah Riset Operasional (RO). Jujur sejujujur-jujurnya, ini mata kuliah macam apa sih? Haduh! Angka-angka bertebaran di catatan RO ku (bukan catatan ku sendiri deng. Tapi, fotocopyan catatan si Tri hahaha). Pusing, mumet, dan pokoknya campur aduk. Diberi keringanan sih sama dosen yaitu open book atau buka buku. Iya. Ringan. Tingkat keringanannya 10000000. Nolnya boleh kok ditambahin lagi. Hmm~

Selesai ujian, reaksi teman-temanku bermacam-macam. Ada yang memang benar-benar berfikir keras sekeras tonjokan Tessi (Yah itu mah lembek. Tonjokan John Cena deh). Ada juga yang mengisi jawaban dengan menyalin catatan yang padahal itu bukan jawabannya (jurus kepepet hahah). Ingat pepatah, “kerjakan, ingat-ingat kembali, bunuh diri”. Ups salah. Yang benar “Datang, Kerjakan, Lupakan”.

Terlalu Baik Berujung digondol KRL Comutter Line

Kamis, 3 Desember 2015
Saat itu, aku dan temen-teman sedang berada di dalam kereta dan menuju pulang sehabis motret-motret di sekitar Jakarta Pusat. “Sebentar lagi kereta akan berhenti di Stasiun Lenteng Agung“, kata mas yang halo-halo di dalam kereta”. “Yah, cepet banget 3 stasiun lagi nyampe“, pikirku. Okey, santai dulu sambil mengobrol. Kereta yang aku naiki sangat ramai karena jam pulang kerja.


Sebentar lagi kereta akan berhenti di Stasiun Pondok Cina“, kata mas yang halo-halo-lagi.


Aku dan temen-temen bergegas untuk bangun dari tempat duduk. Sementara, Nisa masih tetap di tempat duduk karena dia akan turun di stasiun Bojong Gede. Temen-temen sudah siap berdiri persis di dekat pintu. Sementara aku sibuk mempersilahkan orang-orang yang berdiri untuk duduk di kursi yang ga ku tempati lagi.

Kereta berhenti di Stasiun Pondok Cina. Lalu aku jalan menuju pintu keluar dan menunggu orang yang di depanku keluar. Ternyata oh ternyata, dia ga keluar. Dia hanya mengambil tas di rak atas. Saat aku ingin keluar, Orang-orang yang masuk ke kereta terlalu banyak dan aku ga bisa keluar.


zreeeek!!